Rabu, 04 Februari 2026

BKKBN Merajut Empati Pentahelix Bersama PMMI Merangkul Kelompok Difabel

                     Foto Bersama : Kepala Perwakilan BKKBN Bengkulu (Tengah) foto bersama                                                                                        pengurus PMMI

Bengkulu,-Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Bengkulu terus memperkuat komitmennya dalam menghadirkan pembangunan keluarga yang inklusif melalui pendekatan kolaborasi pentahelix. Upaya ini menjadi wujud nyata BKKBN dalam merajut empati lintas sektor guna merangkul penyandang disabilitas agar tidak tertinggal dalam program pembangunan kependudukan dan keluarga.

" Dengan semangat difabel juga keluarga, BKKBN menegaskan bahwa pembangunan keluarga berkualitas hanya akan bermakna jika inklusif, adil, dan tidak meninggalkan siapa pun," kata Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Bengkulu Zamhari, S.H., M.H kepada pewarta usai menerima audiensi PMMI Bengkulu, Selasa,(3/2/2026).

Penyuluh dan petugas KB BKKBN di lapangan bersama relawan PMMI akan menjadi penghubung penting di lapangan untuk bersama mengedukasi masyarakat. Dengan pendekatan yang ramah dan setara, mereka mendampingi keluarga memahami pentingnya perencanaan keluarga, kesehatan reproduksi, serta pengasuhan pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan. Pesan-pesan Program Bangga Kencana disampaikan bukan sebagai instruksi, melainkan sebagai ajakan—bahwa keluarga berencana adalah upaya merawat masa depan, bukan membatasi kehidupan. 


"Kolaborasi menjaga asa kaum difabel, BKKBN dapat melibatkan penyuluh lapangan KB yang mencapai 292 personel  dan sebanyak 7.000 orang lebih kader institusi masyarakat perdesaan (IMP) yang tersebar di 1.513 desa," sebut Kepala BKKBN Bengkulu.

Difabel kerap berada di pinggir arus pembangunan. Bukan karena keterbatasan, melainkan karena kurangnya ruang dan kesempatan yang setara. Melalui kolaborasi pentahelix, berbagai inisiatif inklusif mulai dihadirkan—dari layanan dasar yang ramah disabilitas, penguatan kapasitas keluarga, hingga pemberdayaan ekonomi yang memberi harapan baru.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2023 merilis jumlah penyandang disabilitas di Indonesia mencapai 22,97 juta orang atau sekitar 8,5 persen dari total populasi. Prevalensi nasional disabilitas tercatat 6,42 persen. Angka tersebut secara tidak langsung akan menyumbang kemiskinan," ujarnya Selasa, (3/2/2026).


Melalui kolaborasi pentahelix ini, BKKBN berharap tercipta ekosistem pembangunan keluarga yang tidak diskriminatif, sekaligus memperluas ruang partisipasi penyandang disabilitas dalam berbagai aspek kehidupan sosial. Ke depan, penguatan empati dan kerja bersama lintas sektor diharapkan mampu meningkatkan kualitas hidup keluarga difabel serta mewujudkan pembangunan keluarga berkualitas tanpa meninggalkan siapa pun.

Ketua PMMI Bengkulu Irna Riza Yuliastuty, S.Sos akan bekerja sama dengan BKKBN dalam rangka mengurai persoalan keluarga penyadang disabilitas. Melalui gerak PMMI mengedukasi praktik baik terhadap keluarga difabel di Bengkulu.(irs)

Penulis : Idris Chalik
Editor : Mardhotillah Layli, S.Sos., M.Sos
Rilis : Rabu,(3/2/2026).


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Baca Lainnya