| Foto: Gubernur Bengkulu, H. Helmi Hasan, S.E., saat menerima Audiensi Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Bengkulu, dr. Zamhir Setiawan., M.Epid, di Balai Semarak (Kamis,18/6/2026) |
Bengkulu,-Peringatan hari keluarga di tanah air terus digaungkan yang tak sekedar untuk mengenang kembalinya para pejuang kemerdekaan ke pangkuan keluarga pada 29 Juni 1949. Namun lebih jauh dari itu, untuk mengingatkan masyarakat akan pentingnya peran keluarga sebagai unit terkecil dalam memperkuat ketahanan nasional dan membangun bangsa melalui keluarga yang berketahanan.
"Hari keluarga diperingati dan ditanamkan dalam keluarga Indonesia untuk menjawab dan mengurai tantang dalam pembangunan kependudukan upaya mewujudkan keluarga Indonesia yang berketahanan," kata Kepala Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Bengkulu, dr. H. Zamhir Setiawan., M.Epid., kepada pewarta di Bengkulu, Jumat,(19/6/2026).
Tahun ini hari keluarga diperingati secara serentak pada 29 Juni 2026. Dan di Provinsi Bengkulu untuk perayaan hari bersejarah direspon Gubernur Bengkulu untuk digelar upacara bendera di halaman kantor gubernur setempat dengan melibatkan sejumlah instansi pemerintah dan swasta di lingkup pemerintah daerah Provinsi Bengkulu.
"Bersama pemerintah Provinsi Bengkulu kita (Kemendukbangga/BKKBN) mengkombinasikan program pembangunan keluarga yang berfokus pada ketahanan keluarga melalui penerapan lima program prioritas Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (Kemendukbangga/BKKBN) yang menekankan pada Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI), Taman Asuh Sayang Anak (TAMASYA). Harganas yang dengan slogan "Ayah Wajib Hadir" dapat menjawab tantangan pembangunan kependudukan," kata Zamhir.
Mengurai tantangan tersebut seperti "lemahnya komunikasi antar anggota keluarga" akan mempertajam budaya hidup fatherless country di mana sebagian besar anak tumbuh tanpa keterlibatan figur atau peran ayah dalam kehidupan mereka. Ketidakhadiran ini bisa terjadi secara fisik maupun psikologis, "ayah bisa saja hadir di rumah, namun tidak terlibat secara emosional dan pengasuhan".
Ketiadaan sosok ayah atau dikenal dengan fenomena fatherless menjadi tantangan serius bagi ketahanan keluarga di Indonesia. Kondisi ini terjadi tidak hanya karena ayah absen secara fisik, tetapi juga karena absen secara psikologis. Berdasarkan data dari UNICEF yang disoroti Kemendukbangga/BKKBN, sekitar 20,9 persen anak Indonesia tumbuh tanpa kehadiran figur ayah. Hal ini menjadikan Indonesia sering disebut sebagai negara dengan kasus fatherless peringkat ke-3 di dunia.
Dia menambahkan, melalui gaung Harganas pemerintah mengajak keluarga di Bengkulu untuk wajib hadir dalam pengasuhan baik secara fisik maupun psikolagis. Berdasarkan proyeksi demografi, jumlah kepala keluarga di Bengkulu tahun 2026 mencapai 551 ribu lebih, dengan jumlah anak kelompok usia 1–12 tahun di Provinsi Bengkulu mencapai sekitar 429.000 jiwa (BPS -2026).
"Harganas menjawab tantangan prorgam pembangunan keluarga yang diantaranya ketiadaan sosok ayah memberikan pengasuhan dan pendampingan kepada anak," kata Zamhir. (irs)
Editor : Tim Kehumasan Perwakilan BKKBN Provinsi Bengkulu
Rilis : Jumat,(19/6/2026)