Bengkulu,-Keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama bagi setiap individu dalam menjalani proses tumbuh kembang. Melalui program prioritasnya Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga) meluncurkan lima program utama untuk memperkuat ketahanan keluarga secara nasional. Program-program ini dirancang untuk memastikan stabilitas demografi dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) yang tangguh.
Salah satunya Gerakan Orangtua Asuh Cegah Stunting (Genting), program untuk membangun ketahanan keluarga melalui gotong royong menggandeng multi pihak dalam percepatan penurunan stunting. Program ini menyasar keluarga berisiko stunting (ibu hamil, menyusui, dan balita) dengan memberikan intervensi gizi serta penyuluhan. Dikembangkannya program tersebut untuk menggerakkan kepedulian masyarakat, dunia usaha, organisasi, dan individu untuk membantu keluarga berisiko stunting, khususnya ibu hamil, ibu menyusui, bayi dan balita dalam periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan. Target utamanya adalah mempercepat penurunan risiko stunting melalui gotong royong masyarakat melalui bantuan Nutrisi dan Non Nutrisi.
"Berdasarkan hasil Verifikasi dan Validasi KRS 2025, merilis pada 2026 tahun ini terdapat Keluarga berisiko stunting (KRS) di Provinsi Bengkulu mencapai 56.851 keluarga dengan beberapa kategori prioritas yang tersebar di sejumlah daerah kabupaten dan kota di daerah ini," hal itu disampaikan Kepala Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Bengkulu, dr. Zamhir Setiawan, M.Epid. saat dialog dalam sebuah program TV lokal di Bengkulu pekan lalu.
"Dari 56.851 KRS itu terdapat di Kabupaten Bengkulu Selatan (BS) 4.216 keluarga, Bengkulu Tengah sebanyak 3.394 KRS, Bengkulu Utara mencapai 9.025 keluarga,Kabupaten Kaur 4.328 keluarga, di Kabupaten Kepahiang 3.794 keluarga. Dan di Kota Bengkulu mencapai 10.802 keluarga berisiko stunting.
Sementara, jumlah KRS di Kabupaten Lebong terdapat 4.147 keluarga, Kabupaten Mukomuko sebanyak 5.473 keluarga, Kabupaten Rejang Lebong 5.317 keluarga, sementara di Kabupaten Seluma mencapai 6.355 keluarga. KRS sebanyak itu masuk kategori intervensi utama sebanyak 10.852 keluarga. Yaitu keluarga dengan memiliki dua hingga tiga faktor risiko. Dimana terdapat ibu terlalu muda saat hamil dan dengan lingkungan yang tidak sehat. Ibu hamil dengan KEK, anak balita dengan gizi kurang serta tidak memiliki akses sumber air bersih,"sebutnya.
Disampaikan Zamhir alasan mengapa penanganan stunting dan ketahanan keluarga sangat penting. Stunting bukan hanya persoalan tinggi badan anak, tetapi menyangkut kualitas sumber daya manusia di masa depan. Anak yang mengalami stunting berisiko mengalami gangguan perkembangan kognitif, kesehatan, dan produktivitas saat dewasa.
"Oleh karena itu, penanganan stunting harus dimulai dari keluarga. Ketahanan keluarga menjadi fondasi utama karena keluarga adalah lingkungan pertama yang menentukan pola asuh, pemenuhan gizi, kesehatan, pendidikan, dan perlindungan anak. Semakin kuat ketahanan keluarga, semakin besar peluang lahirnya generasi yang sehat dan berkualitas," dr. Zamhir Setiawan.
Menurut dia, kunci utama dalam percepatan penurunan angka stunting secara nasional perlu pendekatan untuk kolaborasi pentahelix. Pendekatan multi-pihak ini menggabungkan lima elemen strategis untuk menciptakan program intervensi yang konvergen, tepat sasaran, dan berkelanjutan,
"Kami mengajak dunia usaha berpartisipasi melalui program prioritas GENTING. Yang tidak hanya instansi tapi juga tokoh-tokoh daerah, individu, pengusaha, civitas akademika dan komunitas untuk bersama sama membantu pencegahan stunting melalui berbagai bentuk intervensi. Intervensi spesifik maupun sensitif".
Keroyok stunting melalui bantuan bedah rumah, jamban sehat, sanitasi, edukasi, pemberdayaan ekonomi dan bantuan nutrisi yang datanya bisa di pantau langsung pada Dashboard GENTING. Semakin banyak pihak yang terlibat, semakin luas jangkauan intervensi yang dapat diberikan kepada keluarga sasaran.
Dia menambahkan bahwa, ketahanan keluarga tidak hanya dimaknai sebagai kemampuan memenuhi kebutuhan ekonomi, tetapi juga mencakup keharmonisan hubungan antaranggota keluarga, kualitas pengasuhan, dengan dikembangkan program Taman Asuh Sayang Anak (TAMASYA). Melalui pola asuh yang baik dan perencanaan keluarga yang matang, orang tua dapat memberikan kesempatan terbaik bagi anak untuk berkembang secara optimal.
Meningkatkan kesehatan kesehatan, pendidikan, hingga kemampuan menghadapi berbagai tantangan sosial terdapat program prioritas lainnya SIDAYA (Lansia Berdaya). Keluarga yang tangguh mampu menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman bagi anak untuk tumbuh sehat, cerdas, dan berkarakter. (irs)
Editor : Tim Kehumasan Perwakilan BKKBN Provinsi Bengkulu
Rilis : Kamis,(11/6/2026)