Selasa, 30 Juni 2026

Urai Stunting di Pulau Terluar, Pemkab Bengkulu Utara Intervensi KRS di Enggano

 

GM PT.Pelindo II Cabang Bengkulu (no 2 kiri) Dr. Dimas Rizky Kusmayadi foto bersama Kadis PPKB Bengkulu Utara Nova Hendriani,S.K.M.,M.M

Bengkulu,-Pemerintah intens memerangi stunting, pada akhir Juni 2026 baru ini Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Badan Kependudukan dan keluarga Berencana Nasional (Kemendukbangga/BKKBN) bersama Pemerintah Kabupaten Bengkulu Utara mengintervensi keluarga berisiko stunting (KRS) di Pulau Enggano, Kecamatan Enggano, Kabupaten Bengkulu Utara, Bengkulu untuk mengurai prevalensi stunting di wilayah pulau tersebut.

Menggandeng PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) II Cabang Bengkulu pemerintah daerah setempat  intervensi melalui Corporate Social Responsibility (CSR). Untuk tepat sasarannya pemerintah gaet Yayasan Kesejahteraan Madani (Yakesma) turun menyasar KRS di wilayah pulau terluar guna menekan angka stunting di Bengkulu Utara yang terbilang tinggi masih bertengger pada angka 20,7 persen (SSGI-2024). 

Intervensi KRS yang ada di lima desa di pulau terpencil dan terluar merupakan langkah strategis percepatan penurunan stunting dan peningkatan kualitas SDM," kata Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kabupaten Bengkulu Utara, Nova Hendriani, S.K.M., M.M,(Selasa,30/6/2026).


"Kita turun di pulau tersebut pada 23-Juni 2026 bersama PT.Pelindo II Cabang Bengkulu dan Yayasan Kesejahteraan Madani (Yakesma) sebuah lembaga amil zakat yang berfokus pada kesejahteraan masyarakat diyakini mampu mengurai persoalan stunting yang bagian dari aral untuk menuju keluarga sejahtera," kata Nova.

Melalui program TJSLP (Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan Perusahaan) juga melaksanakan program Bengkel Gizi sebagai bentuk intervensi gizi bagi baduta di Pulau Enggano. Program ini akan dilaksanakan secara berkelanjutan selama tiga bulan berturut-turut. Para penerima manfaat akan mendapatkan pendampingan, pemantauan perkembangan, serta dukungan pemenuhan gizi guna mendorong peningkatan status kesehatan dan mencegah stunting.

Dikatakan Nova, intervensi sensitif dengan penyaluran nutrisi selama enam bulan sejak Juni 2026 hingga Novembe 2026 menyasar 12 keluarga berisiko stunting yang ada di lima desa di pulau tersebut. KRS di Pulau Enggano tercatat sebanyak 99 keluarga, untuk menekan potensi stunting baru maka diperlukan aksi intervensi secara kolaboratif lintas sektor.

Secara terpisah, Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Bengkulu, dr. H. Zamhir Setiawan, M.Epid., kepada pewarta di Bengkulu, Selasa,30 Juni 2026 menyampaikan, intervensi di wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar) yang digalakkan pemerintah daerah setempat semata upaya percepatan peningkatan kualitas anak bangsa dengan membebaskan mereka dari ancaman kurang gizi kronis. 

Stunting disebabkan banyak faktor, selain kurangnya asupan gizi, sanitasi yang tidak sehatpun menjadi penyebab stunting. "Selain masalah asupan, penyebab utama stunting meliputi infeksi berulang, sanitasi yang buruk, dan kurangnya stimulasi psikososial. Faktor-faktor non-gizi ini menghalangi tubuh menyerap nutrisi dengan baik atau mengganggu hormon pertumbuhan anak," ujar dr. Zamhir.

Kasus kurang asupan gizi kronis (stunting) di Bengkulu masih berada pada angka 18,8 persen (SSGI-2024) dengan jumlah KRS sebanyak 56.851 keluarga yang tersebar di sejumlah daerah kabupaten dan kota. Kabupaten Bengkulu Selatan 4.216, Bengkulu Tengah 3.394 keluarga, Bengkulu Utara sebanyak 9.025, Kabupaten Kaur terdapat 4.328 keluarga, Kepahiang 3.794 KRS dan Kota Bengkulu mencapai 10.802 keluarga berisiko. Sementara KRS di Kabupaten Lebong sebanyak 4.147 keluarga, Mukomuko sebanyak 5.473, Rejang Lebong terdapat 5.317 dan Kabupaten Seluma mencapai 6.355 keluarga berisiko stunting.(irs)

Penulis : Idris Chalik
Editor : Tim kehumasan Perwakilan BKKBN Provinsi Bengkulu
Rilis : Selasa,(30/6/2026)

Baca Lainnya