Bengkulu,-Kepala Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Bengkulu Zamhari, S.H., M.H menegaskan program "Tamasya" momentum penguatan keluarga.
Sebab menurut dia bahwa keluarga adalah sekolah pertama dan utama bagi anak-anak untuk medapatkan ilmu. Jika keluarga kuat, maka bangsa pun akan kuat," kata Zamhari saat mengikuti zoommeeting TAMASYA di KERABAT (Kelas Orang Tua Hebat) Seri 7 di Bengkulu," Kamis, (26/3/2026).
Dalam pertemuan virtual yang mengangkat tema “Gizi Pada Kehamilan Dan Pemantauan Gizi Menuju Kehamilan Sehat” Zamhari menyampaikan juga beberapa hal penting dalam penguatan progam Tamasya untuk meyiapkan generasi yang berkualitas melalui pemenuhan dan penguatan gizi mulai dari ibu hamil," ujarnya.
Program yang dibangun BKKBN itu sangat relevan dengan tujuan pemerintah mempersiapkan generasi emas untuk meraih bonus demografi. " Saat ini Indonesia sedang berada pada momentum bonus demografi. Kita memiliki jumlah penduduk usia produktif yang besar, yang jika dikelola dengan baik, akan menjadi kekuatan untuk meningkatkan pembangunan bangsa. Namun, bonus demografi ini tidak akan berarti apabila generasi yang kita siapkan hari ini tumbuh tanpa kualitas.
Kualitas SDM sangat ditentukan sejak usia dini. Para ahli menyebutnya sebagai periode emas perkembangan anak atau golden age. Usia 0 sampai 6 tahun merupakan masa krusial dalam pembentukan kecerdasan, perilaku, bahkan karakter anak. Pada fase ini otak anak berkembang sangat pesat, sehingga stimulasi, asuhan, dan pengasuhan yang tepat sangatlah penting," kata Kepala BKKBN Bengkulu.
Namun, kita juga menghadapi tantangan. Tidak sedikit masih tingginya angka anemia dan kekurangan energi kronis (KEK) pada ibu hamil. Selain itu pernikahan usia dini dan kehamilan pada usia remaja. Kehamilan di usia terlalu muda berisiko tinggi karena kondisi fisik dan status gizi calon ibu belum sepenuhnya siap. Di sisi lain, tantangan era modern juga muncul dalam bentuk pola konsumsi instan dan rendah gizi," sambungnya.
Urbanisasi dan perubahan gaya hidup menyebabkan sebagian ibu hamil lebih memilih makanan cepat saji yang tinggi kalori tetapi rendah zat gizi mikro. Hal ini berkontribusi pada fenomena “double burden of malnutrition”, yaitu kekurangan zat gizi mikro namun berlebih kalori.
Dikembangkannya program tamasya BKKBN ini menunjukkan sebuah bentuk komitmen untuk mendampingi keluarga dalam memastikan kesehatan ibu hamil dan anak-anak Indonesia yang dilahirkan dapat tumbuh sehat, cerdas, dan bahagia. sebagai salah satu ujung tombak yang dimiliki BKKBN, Tim Pendamping Keluarg (TPK) siap melakukan pendampingan kepada ibu hamil," ujarnya.
Melalui kunjungan ini, TPK memantau kondisi ibu hamil, memastikan ibu melakukan pemeriksaan kehamilan (ANC) secara rutin di fasilitas kesehatan, serta memantau kepatuhan konsumsi tablet tambah darah dan suplemen lainnya. Selain itu melalui berbagai program seperti Bina Keluarga Balita (BKB), Taman Asuh Sayang Anak (TAMASYA), hingga kelas pengasuhan KERABAT (Kelas Orang Tua Hebat), kami berupaya memberikan ruang belajar dan pendampingan bagi para orang tua, calon orang tua dan pengasuh.(irs)
Editor : Mardhotillah Layli, S.Sos., M.Sos
Rilis : Jumat,(27/3/2026).
.jpeg)
