Kepala Perwakilan BKKBN Bengkulu dr. H. Zamhir Setiawan., M.Epid meninjau pelayanan bakti KB Harganas di Mukomuko, Bengkulu, (foto BKKBN)
KB MKJP, terdapat IUD (Intrauterine Device) atau AKDR (Alat Kontrasepsi Dalam Rahim), IUD menggunakan tembaga bisa mencegah kehamilan hingga 5–10 tahun dan tidak mengandung hormon. Selain IUD terdapat kontrasepsi jangka panjang lainnya seperti implan atau KB susuk yang lebih dikenal dengan implan yang dipasang di bawah kulit lengan atas. Implan bekerja dengan melepaskan hormon progesteron secara perlahan dan efektif mencegah kehamilan. Kedua jenis ini masuk dalam MKJP non permanen.
Dan, terdapat MKJP permanen seperti Medis Operatif Pria (MOP) tindakan bedah kecil pada saluran sperma pria. Proses ini aman, tidak memengaruhi kejantanan, dan bersifat permanen. Medis Operatif Wanita (MOW) dengan tindakan bedah ringan pada saluran tuba falopi wanita untuk menutup atau memotongnya. Cara ini menghentikan kesuburan secara permanen.
KB Pasca Persalinan, ini bukan jenis kontrasepsi, melainkan rentang waktu yang tepat PUS ber-KB. Pasca Persalinan PUS penting ber-KB untuk memberi waktu pemulihan tubuh, mencegah, mengatur jarak ideal kehamilan (minimal 2 tahun), dan memastikan ibu dapat memberikan ASI eksklusif dengan optimal. PUS pasca melahirkan dapat menggunakan berbagai jenis dan metode kontrasepsi seperti IUD, Implan, suntik. Hamil terlalu cepat setelah melahirkan berisiko mengganggu proses penyembuhan rahim, memicu anemia, hingga meningkatkan risiko depresi pasca melahirkan.
Bakti KB Harganas 2026, PUS muda di Mukomuko serbu pelayanan KB MKJP
"Hal itu menjadi dasar utama bulan bakti KB Harganas ke-33 tahun 2026 memprioritaskan pelayanan KB MKJP dan Pasca Persalinan, kendati tidak mengabaikan permintaan kontrasepsi lainnya seperti pil, suntik dan kondom," kata Kepala Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Bengkulu, dr. H. Zamhir Setiawan, M.Epid., saat meninjau pelayanan bakti KB Harganas di Kabupaten Mukomuko, Bengkulu,(Rabu,24/6/2026).
Ia mengatakan bahwa KB bukan hanya bertujuan mengatur kelahiran, tetapi juga melindungi kesehatan ibu agar memiliki waktu yang cukup untuk pemulihan pasca melahirkan serta memberikan kesempatan bagi bayi memperoleh pengasuhan dan ASI eksklusif secara optimal.
"KB MKJP dan KB pasca persalinan merupakan investasi kesehatan bagi ibu dan anak. Dengan pengaturan jarak kehamilan yang ideal, risiko kehamilan berisiko tinggi dapat ditekan, sehingga ibu lebih sehat dan anak dapat tumbuh secara optimal," ujarnya di selah pelayanan KB.
Ketua Ikatan Penyuluh KB (IPeKB) Kabupaten Mukomuko, Yetwidiawati, S.K.M., M.K.M., menyampaikan bahwa minat ber-KB di tengah masyarakat akhir ini makin meningkat. Peningkatan kesadaran masyarakat di wilayah Mukomuko terhadap manfaat KB berdampak langsung pada melonjaknya kebutuhan MKJP seperti IUD dan implan.
PUS muda di Kabupaten Mukomuko, Bengkulu saat pelayanan KB MKJP (implan)
"Hal itu terlihat dari kunjungan PUS pada pelayanan KB Harganas di Mukomuko pada 24/6/2026 di Puskemas Dusun Baru, Kecamatan Air Dikit dan Desa Bukit Mulya, Kecamatan Penarik terdapat pelayanan kontrasepsi jangka panjang mencapai 67 akseptor, IUD 11 peserta dan implant 56 akseptor" rinci Yet.
Menurutnya, metode MKJP seperti IUD dan implan memiliki tingkat efektivitas yang tinggi dalam mencegah kehamilan serta dapat digunakan dalam jangka panjang sesuai kebutuhan pasangan. Sementara itu, KB pasca persalinan dapat diberikan segera setelah melahirkan hingga 42 hari masa nifas, sehingga ibu tidak perlu menunda perlindungan terhadap kehamilan berikutnya.
Yet menambahkan, pada bakti KB Harganas tahun ini pemerintah Kabupaten Mukomuko membuka ruang pelayanan di sejumlah fasilitas kesehatan (faskes) baik faskes pemerintah maupun klinik PMB swasta. Dibukanya akses kepada masyarakat itu sebagai upaya untuk mencapai sasaran kabupaten sebesar 688 peserta KB Peserta Baru (KBPP),' ujarnya.
Sementara itu Ketua Tim Kerja 2 Bidang- KB dan Kesehatan Reproduksi BKKBN Bengkulu, Else Triana Putri, S.K.M., M.A.P., menambahkan, bakti KB harganas masih berlangsung hingga 8 Juli 2026. Menjelang akhir Juni 2026 dari sasaran 8.121 telah meraih capaian sebanyak 1.581 peserta. Diantaranya terdapat akseptor dengan menggunakan MKJP 541 peserta, KB Pasca Persalinan (KBPP) sebanyak 820 akseptor dan KB steril wanita/tubektomi mencapai 42 peserta.
Dikatakan Else, jarak kehamilan yang cukup memberi waktu bagi tubuh ibu untuk pulih, mendukung pemberian ASI eksklusif, serta meningkatkan peluang tumbuh kembang anak secara optimal. Untuk itu Kemendukbangga/BKKBN mengimbau seluruh masyarakat khususnya PUS untuk melakukan konsultasi sejak masa kehamilan dengan dokter, bidan, atau tenaga kesehatan.
Pada tahun ini terdapat PUS di Bengkulu mencapai 320.947 pasangan, yang memerlukan layanan konseling dan KB untuk menentukan pilihan tepat metode kontrasepsi yang paling sesuai dengan kondisi kesehatan, rencana memiliki anak, dan pola menyusui.(irs)
Editor : Tim Kehumasan Perwakilan BKKBN Provinsi Bengkulu
Rilis : Jumat,(26/6/2026)