Oleh: Rosita Mulya Ningsi, S.IKom (Penyuluh Keluarga Berencana Ahli Pertama Perwakilan BKKBN Provinsi Bengkulu)
Sebanyak 25,5% anak di Indonesia mengalami Fatherless, sehingga menempatak Indonesia sebagai negara yang kehilangan sosok ayah “Fatherless Country”, anak-anak yang memiliki ayah secara fisik, akan tetapi hilang secara emosional, ayah hadir sebagai sumber finansial tetapi absen dalam mendampingi tumbuh kembang anak secara psikologis. Fenomena fatrherless ini bukan hanya isu sosial biasa, melainkan awal dari lahirnya Father wound, sebuah luka batin yang dalam akibat dinginnya sikap, tindakan kasar dan ketidakhadiran seorang ayah dalam proses tumbuh kembang anak.
Pada momen Hari Keluarga Nasional ke-33 Tahun 2026, ada slogan “Ayah Wajib Hadir!” Adalah upaya negara untuk mengajak sekaligus mengingatkan ayah tentang pentingnya kehadiran mereka tidak hanya sebagai pendukung finansial semata akan tetapi menjadi teman dan juga sumber kekuatan bagi anak. akan tetapi, ketika kita menuntut kehadiran ayah untuk hadir hari ini, kita seringkali melupakan satu pertanyaan Krusial yang Adil: Bagaimana seorang ayah bisa memberikan kehangatan jika sewaktu kecil dia hanya kenyang dengan bentakan?
Tidak dipungkiri banyak ayah saat ini sebagian adalah korban luka pengasuhan masa lalu yang belum sembuh, mereka terjebak dalam lingkaran intergenerational trauma (Trauma antar generasi) yang mungkin saja luka pengasuhan masa lalu diwariskan kepada anaknya karena mereka tidak memahami cara mengasuh yang benar dan berbeda. Lalu bagaimana ayah yang terluka bisa menjadi ayah yang baik sembari juga menyembuhkan dirinya sendiri?
Melalui program GATI (Gerakan Ayah Teladan Indonesia), ayah perlu juga dibantu untuk berdamai dengan lukanya sehingga mampu merencanakan upaya penyembuhan luka sembari terus menerus mengeksplorasi dirinya menjadi sosok ayah yang hadir secara utuh untuk anak-anaknya. Apa saja yang bisa dilakukan oleh seorang ayah?
1. Belajar berdamai dengan Luka masa lalu, menyadari luka tanpa mencari pembenaran.
Luka, hanya dapat disembuhkan ketika penderitanya mau jujur mengakui keberadaan luka tersebut. Seorang ayah perlu mengenali bagaimana pengasuhan yang diterimanya di masa kecil mempengaruhi emosinya hari ini. Dengan mengenali itu, ayah dapat memahami bahwa bisa saja tindakan yang sama pada hari ini akan menimbulkan luka yang sama pada anaknya di masa yang akan datang. Sehingga ayah dapat secara sadar merefleksikan ekspresi marah atau kecemasannya secara lebih objektif tanpa terpicu oleh luka masa lalu.
2. Menjadikan anak sebagai ruang terapi bersama.
Ilmu psikologi perkembangan melihat bahwa proses pengasuh anak dapat menjadi ruang penyembuhan (Healing Space) terbaik untuk masa kecil ayah yang hilang.
Ketika ayah memberikan ruang anak laki-laki untuk menangis alih-alih memarahinya seperti yang dulu dia terima dari ayahnya. Ia tidak hanya sedang menenangkan sang anak, tetapi di saat yang sama dia sedang memeluk, mengobati dan memvalidasi inner child di dalam dirinya yang dulu kesepian. Hubungan timbal baik ini dapat menyembuhkan kedua belah pihak secara bersamaan.
3. Seni mengambil jeda (mencegah dan memutus rantai refleks dan dampaknya)
Saat stress, lelah, atau tertekan, otak manusia cenderung mengaktifkan refleks ootomatis. Seorang ayah yang masa kecilnya keras, refleks otomatisnya adalah meniru kekerasan tersebut. Disinilah pentingnya kemampuan untuk mengelola emosi. Salah satu cara yang cukup efektif adalah melalui mengambil jeda, ayah dapat mengambil jeda 2-3 detik dengan menarik nafas untuk kemudian dapat merespon amarah ataupun tekanan yang di alaminya, karena dalam banyak kejadian bukan ulah anak yang menjadi pemicu amarah, akan tetapi beban stress membuat anak secara tidak sengaja menjadi pelampiasan dari kemarahan dan juga respon refleks tersebut. Mengambil jeda menjadi penentu bagaimana ayah akan bersikap selanjutnya, apakah akan mengulang sejarah kelam pengasuhan masa lalunya atau menulis sejarah baru yang penuh kasih bagi masa depan anaknya.
Ayah Hari ini: Pahlawan yang Menyembuhkan Diri
Kita harus adil memandang para ayah hari ini. Mereka adalah generasi yang dipaksa menjadi utuh di atas puing-puing asuhan masa lalu yang runtuh. Siapa yang menyembuhkan luka pengasuhan ayah? Jawabannya adalah diri mereka sendiri, melalui kehadiran anak-anak mereka.
Menjadi ayah yang hadir dan baik bukan berarti menjadi manusia sempurna tanpa cela. Menjadi ayah yang baik adalah tentang seorang pria yang berani berdiri di depan cermin, menatap lukanya sendiri, dan berkata, "Cukup sampai di saya. Luka ini tidak akan saya wariskan kepada anak saya."
Mari jadikan kehadiran ayah hari ini sebagai batas akhir dari trauma masa lalu, agar anak-anak kita kelak tumbuh dengan ayah yang tidak hanya wajib ada di kartu keluarga, tetapi juga utuh menetap di dalam hati mereka.
Referensi
Bowlby, J. (1982). Attachment and loss: Vol. 1. Attachment (2nd ed.). Basic Books.
Cowan, P. A., & Cowan, C. P. (2019). Enhancing the father’s role in parenting: An intergenerational approach to
family change. Journal of Family Theory & Review, 11(2), 231-244.
Degnan, K. A., & Fox, N. A. (2007). Behavioral inhibition and anxiety disorders: Multiple levels of processes.
Harvard Review of Psychiatry, 15(3), 126-135.
McConnico, N., Boynton-Jarrett, R., Bailey, C., & Jacobs, F. (2016). Intergenerational trauma, parenting stress,
and the role of paternal involvement in fragile families. Child Abuse & Neglect, 51, 234-245.
Phares, V., Fields, S., & Binitie, I. (2005). Father involvement in clinical training and research. Journal of Clinical
Child and Adolescent Psychology, 34(4), 594-605.
![]() |
| Foto : Rosita Mulya Ningsi, S.IKom (Penyuluh Keluarga Berencana Ahli Pertama Perwakilan BKKBN Provinsi Bengkulu) |
Penulis : Rosita Mulya Ningsi, S.IKom
Editor : Humas Perwakilan BKKBN Provinsi Bengkulu
Rilis : Selasa, 1 Juli 2026.
Punya cerita atau gagasan seputar keluarga dan program Bangga Kencana? Yuk, bagikan tulisan Anda dan jadilah agen perubahan bersama Redaksi Kemendukbangga/BKKBN Perwakilan Provinsi Bengkulu!
Media Center Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN Perwakilan BKKBN Provinsi Bengkulu
prov.bengkulu@kemendukbangga.go.id / kemendukbanggabkkbnbengkulu@gmail.com
bengkulu.kemendukbangga.go.id / keluargabengkulu.id
Telp./Fax : (0736) 8051144
Whatsapp : 0852-7967-1596
Alamat : Jalan Pembangunan no. 10, Jembatan Kecil, Singaran Pati, Kota Bengkulu, Bengkulu. 38824 (google maps)
Facebook : BKKBN Bengkulu
Instagram : kemendukbangga_bkkbnbengkulu
Threads : kemendukbangga_bkkbnbengkulu
Tiktok : kemendukbangga_bengkulu
Twitter/X : bkkbnbengkulu
Youtube : Kemendukbangga BKKBN Provinsi Bengkulu
Saluran Whatsapp : Kemendukbangga/BKKBN Perwakilan BKKBN Provinsi Bengkulu
Tentang Kemendukbangga/BKKBN
Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (Kemendukbangga/BKKBN) adalah lembaga yang mendapat tugas untuk mengendalikan jumlah penduduk melalui penyelenggaraan program kependudukan dan Keluarga Berencana, serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia melalui pembangunanan keluarga berdasarkan Undang-Undang Nomor 52 tahun 2009 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga;
Berlandaskan juga pada Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 87 Tahun 2014 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, Keluarga Berencana, dan Sistem Informasi Keluarga, Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 180 Tahun 2024 tentang Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga: Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 181 Tahun 2024 tentang Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN).

