Jumat, 31 Juli 2026

Kualitas SDM Menjadi Acuan, Program KB Terus Diperkuat Meski Angka Kelahiran Pengganti 2,1

Foto: Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Bengukulu, dr. H. Zamhir Setiawan, M.Epid., Bersama tamu undangan, Pengurus Daerah Ikatan Bidan Indonesia (PD IBI) Provinsi Bengkulu pada kegiatan Workshop Edukasi dan Simulasi Pemasangan Implan Susuk KB II Batang Tiga Tahunan serta Konseling bagi Provider untuk Optimalisasi Pencapaian Pelayanan Keluarga Berencana di Bengkulu (30/7/2026).

Bengkulu, – Program Keluarga Berencana (Program KB) tetap menjadi salah satu prioritas pemerintah meskipun angka kelahiran atau Total Fertility Rate (TFR) jauh menurun. TFR di Provinsi Bengkulu tercatat sebesar 2,30, yang berarti ada sekitar 2 hingga 3 anak yang dilahirkan oleh perempuan selama masa reproduksinya, potret tersebut menunjukkan KB mampu menekan populasi penduduk. Dan Indonesia telah mendekati angka pengganti (replacement level) sebesar 2,1 anak per perempuan. Penguatan program KB dinilai penting untuk menjaga keseimbangan struktur penduduk sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Bengkulu, dr. H. Zamhir Setiawan, M.Epid., mengatakan keberhasilan menurunkan angka kelahiran bukan berarti program KB telah selesai. Sebaliknya, upaya penguatan pelayanan dan edukasi kepada masyarakat harus terus dilakukan agar capaian tersebut dapat dipertahankan secara berkelanjutan. Penguatan program KB tidak dapat lepas dari peran bidan. "Ada Bidan Ada KB, Ada KB Ada Bidan". Mencapai 70 persen keberhasilan KB berkat peran dan campur tangan bidan.

Berdasarkan hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025, TFR Indonesia berada pada angka 2,13, mendekati tingkat pengganti sebesar 2,1, yang menunjukkan pertumbuhan penduduk semakin seimbang. Kondisi tersebut menjadi modal penting bagi Indonesia untuk mengoptimalkan bonus demografi melalui penguatan pembangunan keluarga dan peningkatan kualitas penduduk.

"Program KB tetap diperkuat, kendati telah mendekati capaian angka penduduk tumbuh seimbang 2,1. Dan Bengkulu masih relevan untuk memperkuat program KB, karena TFR masih terbilang tinggi mencapai 2,30 anak," kata Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Bengkulu, dr.H. Zamhir Setiawan., M.Epid., dalam sambutannya pada Workshop Edukasi dan Simulasi Pemasangan Implan Susuk KB II Batang Tiga Tahunan serta Konseling bagi Provider untuk Optimalisasi Pencapaian Pelayanan Keluarga Berencana di Bengkulu,Kamis,(30/7/2026).

Foto: Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Bengukulu, dr. H. Zamhir Setiawan, M.Epid., pada penandatanganan Perjanjian Kerja Sama dengan Pengurus Daerah Ikatan Bidan Indonesia (PD IBI) Provinsi Bengkulu, Perkumpulan Mitra Masyarakat Inklusif (PMMI) Bengkulu dan MoU dengan Bank Syariah Indonesia Bengkulu pada kegiatan Workshop Edukasi dan Simulasi Pemasangan Implan Susuk KB II Batang Tiga Tahunan serta Konseling bagi Provider untuk Optimalisasi Pencapaian Pelayanan Keluarga Berencana di Bengkulu (30/7/2026).

Penduduk tumbuh seimbang dimana kondisi kependudukan saat jumlah kelahiran dan kematian berada dalam keadaan seimbang dengan tingkat fertilitas total (Total Fertility Rate atau TFR) rata-rata 2,1 anak per wanita. TFR pada kisaran 2,1 merupakan kondisi ideal atau replacement level fertility, yakni setiap generasi mampu menggantikan jumlah penduduk generasi sebelumnya sehingga pertumbuhan penduduk berlangsung seimbang. Namun, kondisi tersebut tetap memerlukan penguatan kebijakan kependudukan karena tantangan pembangunan kini bergeser pada peningkatan kualitas penduduk, pencegahan stunting, penguatan ketahanan keluarga, serta kesiapan menghadapi bonus demografi dan penuaan penduduk.

Ia mengatakan, dampak apabila TFR turun dibawah 2,1 bisa terjadi Depopulasi atau pertumbuhan penduduk negatif/minus. Beberapa wilayah di Indonesia yang saat ini TFR-nya sudah dibawah 2,1 menurut SUPAS 2025 adalah: DKI Jakarta (1,79), DIY (1,84), Jawa Timur (1,95), Banten (1,96), Bali (2,02), Jawa Barat (2,05), Jawa Tengah (2,05), Sulawesi Utara (2,07), dan Kalimantan Timur (2,09). Namun demikian KB masih diperlukan, sebab KB tidak semata-mata bertujuan menurunkan angka kelahiran, tetapi memastikan setiap kehamilan direncanakan dengan baik melalui pengaturan jarak kelahiran, sehingga setiap anak mendapatkan pengasuhan yang terbaik. Dengan demikian, kualitas keluarga akan semakin meningkat," ujar Kepala BKKBN Bengkulu.

Foto: Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Bengukulu, dr. H. Zamhir Setiawan, M.Epid., Bersama Pengurus Daerah Ikatan Bidan Indonesia (PD IBI) Provinsi Bengkulu pada kegiatan Workshop Edukasi dan Simulasi Pemasangan Implan Susuk KB II Batang Tiga Tahunan serta Konseling bagi Provider untuk Optimalisasi Pencapaian Pelayanan Keluarga Berencana di Bengkulu (30/7/2026).

Menurut Zamhir, BKKBN terus mendorong peningkatan akses pelayanan kontrasepsi berkualitas, memperluas penggunaan Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP), KB Pasca Persalinan meningkatkan peran laki-laki dalam program KB, serta memperkuat edukasi kesehatan reproduksi bagi remaja melalui Program Generasi Berencana (GenRe) serta memperkuat edukasi program AMAN yaitu "Ayah Idaman."

Program Ayah Idaman (AMAN) Kemendukbangga adalah gerakan edukasi yang mendorong keterlibatan aktif suami dalam pendampingan kehamilan, pengasuhan anak, dan menyukseskan program KB pasca persalinan. KB Pasca Persalinan dapat membantu keluarga meningkatkan kesehatan ibu dan anak melalui langkah empat terlalu (4T). " Terlalu muda usia saat melahirkan, terlalu sering melahirkan, terlalu dekat jarak melahirkan dan terlalu tua usia saat melahirkan," sebut dr.H. Zamhir.(irs)


Penulis : Idris Chalik

Editor : Tim Kehumasan Perwakilan BKKBN Provinsi Bengkulu

Rilis : Kamis,(30/7/2026).


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Baca Lainnya