BENGKULU — Di antara deretan ruang kelas Sekolah Rakyat Terintegrasi 3 Provinsi Bengkulu, tawa dan obrolan hangat para remaja terdengar sedikit berbeda hari itu. Ada benih harapan baru yang sedang disemai—sebuah ruang di mana suara mereka tidak hanya didengar, tetapi juga saling menguatkan.
Melalui gagasan bertangan dingin dari Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (Kemendukbangga/BKKBN), Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R) Perdana di Indonesia yang berada di lingkungan Sekolah Rakyat resmi diinisiasi.
Langkah bersejarah ini digelorakan langsung oleh Deputi Bidang Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga (KSPK) Kemendukbangga/BKKBN, Nopian Andusti, S.E., M.T., di sela-sela kunjungan kerjanya. Gagasan ini hadir untuk melengkapi ekosistem Sekolah Rakyat—program prioritas yang digagas oleh Presiden Prabowo Subianto dan telah berjalan secara nasional di bawah naungan utama Kementerian Sosial (Kemensos).
Diskusi Ruangan: Menyatukan Vokasi, Emosional, dan Perlindungan Remaja
Kehadiran program pioneer ini tidak lahir begitu saja, melainkan digodok melalui diskusi hangat dan mendalam di UPT Sentra "Dharma Guna" Kementerian Sosial di Bengkulu.
Dalam pertemuan teknis yang penuh semangat kolaborasi tersebut, Kepala Dinas Sosial Provinsi Bengkulu, Swifanedi Yusda, S.Hut., bersama Kepala UPT Sentra "Dharma Guna" Kemensos di Bengkulu, Hari Setiadi, menyambut baik gagasan integrasi ini. Mereka menekankan pentingnya memberikan perlindungan dan pendampingan sosial yang menyeluruh bagi para anak didik.
Gagasan ini semakin dipertajam oleh Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi 3 Provinsi Bengkulu, Yuliarma Yenni, S.Pd., M.Pd., yang memaparkan kaitan erat antara kondisi psikologis siswa dengan proses belajar sehari-hari. Sementara itu, Ketua Tim Kerja 4 Bidang Penggerakan Masyarakat dan Pengelola Lini Lapangan Perwakilan BKKBN Provinsi Bengkulu, Edi Sofyan, S.E., M.M., menyusun skema teknis agar pembentukan PIK-R dapat berjalan efektif dan berkelanjutan di lapangan.
Dari meja diskusi UPT Sentra "Dharma Guna" inilah, kesepakatan bulat tercapai: Sekolah Rakyat tidak hanya mendidik secara akademik dan vokasional, tetapi juga memeluk jiwa dan mental para siswanya melalui sistem pendampingan sebaya.
Merangkul Remaja Lewat Bahasa Sebaya
Di Sekolah Rakyat, anak-anak dari berbagai latar belakang dirawat mimpi-mimpinya. Namun, melangkah menuju kedewasaan kerap kali diwarnai kecemasan, keraguan, dan gejolak emosi. Di sinilah PIK-R hadir—bukan sebagai panggung guru atau pejabat, melainkan sebagai wadah dari, oleh, dan untuk remaja.
Ke depan, PIK-R diproyeksikan menjadi kegiatan ekstrakurikuler yang menyentuh langsung denyut kehidupan siswa melalui tiga pilar utamanya:
- Pendidik Sebaya: Anak-anak muda yang dibekali pemahaman untuk merangkul temannya, mengedukasi tentang pentingnya kesehatan fisik, gizi, kesehatan mental, hingga perencanaan masa depan tanpa terkesan menggurui.
- Konseling Sebaya: Menghadirkan "ruang aman" yang rahasia dan penuh empati. Tempat di mana seorang remaja bisa meluapkan keluh kesah, kerapuhan, dan tantangan hidup kepada temannya sendiri yang telah dilatih menjadi konselor.
- Pengembangan Life Skills: Mengasah keberanian berkomunikasi, mengelola emosi di masa transisi, serta membangun fondasi karakter sebelum kelak melangkah ke jenjang kehidupan berkeluarga.
Kolaborasi Nyata Menuju Indonesia Emas 2045
Sinergi antara Kemendukbangga/BKKBN dan Kemensos melalui Sekolah Rakyat ini menunjukkan bahwa pembangunan manusia Indonesia tidak bisa berdiri sendiri. Pendidikan dan pengentasan kemiskinan harus berjalan seiring dengan pembentukan karakter dan ketahanan mental para pemudanya.
"Anak-anak kita di Sekolah Rakyat tidak hanya butuh ilmu pengetahuan formal, tetapi juga butuh pegangan emosional dan sosial. PIK-R hadir agar mereka tahu bahwa mereka tidak sendirian menghadapi masa depannya," tegas Nopian Andusti di tengah kehangatan interaksinya bersama para siswa.
Diharapkan, dari sudut-sudut ruang konseling sederhana di Sekolah Rakyat Bengkulu ini, lahir generasi muda yang tangguh secara fisik, matang secara mental, dan bijak dalam merencanakan masa depan. Langkah kecil dari Bengkulu ini menjadi awal dari benteng pertahanan karakter remaja di seluruh Indonesia—menyiapkan Generasi Berencana (GenRe) yang siap menyongsong cita-cita besar Indonesia Emas 2045.(Humas)
.jpeg)


.jpeg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar